Materi Guru Pembelajar : Pendekatan Andragogi

PENDEKATAN ANDRAGOGI DALAM GURU PEMBELAJAR

A. Pengertian Andragogi
Para ahli pendidikan orang dewasa di Eropa (terutama di Jerman dan Yugoslavia) dan Amerika Utara telah mengembangkan teori orang dewasa belajar.
Dari teori itu muncul teknologi baru dalam pendidikan orang dewasa.
Teknologi itu dinamai “Andragogi”, yang berasal dari kata Yunani aner berarti orang dewasa dan agogos berarti membantu / membimbing.

Karena itulah andragogi berarti seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar (Malcom Knowles, 1980: 27).
Di dalam andragogi proses belajar mengajar merupakan tanggungjawab bersama dari pengajar dan pelajar. Dalam hal ini peranan pengajar adalah penyelenggara teknis, nara sumber, dan rekan dalam evaluasi hasil belajar. Pengajar itu lebih merupakan fasilitator daripada instruktur, lebih merupakan pembimbing daripada pengajar.
Dalam andragogi diasumsikan bahwa pengajar itu tidak dapat “mengajar” dalam arti membuat seseorang belajar, tetapi pengajar itu hanyalah dapat membantu orang lain belajar. Pengajar dan Pelajar berbagi tanggung jawab untuk saling menolong dalam belajar. 

B. Perbandingan Andragogi dan Pedagogi.
Di dalam mempelajari materi andragogi ini, terlebih dahulu kita menggali pemahaman peserta tentang pembelajaran pedagogi. Pada umumnya petatar beranggapan pembelajaran andragogi dan pembelajaran pedagogi tidak berbeda, yang membedakannya hanyalah pesertanya saja yaitu pedagogi pesertanya anak-anak, andragogi pesertanya orang dewasa. Anggapan ini terjadi karena pemahaman peserta tentang andragogi masih terbatas.
Pada banyak praktek, mengajar orang dewasa dilakukan sama saja dengan mengajar anak. 
Prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan orang dewasa.
Begitu juga mengenai mengajar, seperti pengalaman mengajar anak-anak, misalnya dalam kondisi wajib hadir dan semua teori mengenai transaksi guru dan siswa didasarkan pada suatu definisi pendidikan sebagai proses pemindahan kebudayaan.
Namun orang dewasa sebagai pribadi yang sudah matang mempunyai kebutuhan belajar di sekitar problem hidupnya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran orang dewasa, yaituTerciptanya proses belajar adalah suatu proses pengalaman yang ingin diwujudkan oleh setiap individu orang dewasa. Proses pembelajaran orang dewasa berkewajiban memotivasi / mendorong untuk mencari pengetahuan yang lebih tinggi.
Setiap individu orang dewasa dapat belajar secara efektif bila setiap individu mampu menemukan makna pribadi bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu berhubungan dengan keperluan pribadinya.
Kadangkala proses pembelajaran orang dewasa kurang kondusif, hal ini dikarenakan belajar hanya diorientasikan terhadap perubahan tingkah laku, sedang perubahan perilaku saja tidak cukup, kalau perubahan itu tidak mampu menghargai budaya bangsa yang luhur yang harus dipelihara, di samping metode berpikir tradisionil yang sukar diubah.
Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta bersifat individul. Setiap individu orang dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri untuk memperlajari dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran tersebut. Dengan adanya peluang untuk mengamati kiat dan strategi individu lain dalam belajar, diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan caranya sendiri dalam belajar, sebagai upaya koreksi yang lebih efektif.
Faktor pengalaman masa lampau sangat berpengaruh pada setiap tindakan yang akan dilakukan, sehingga pengalaman yang baik perlu digali dan ditumbuhkembangkan ke arah yang lebih bermanfaat.
Belajar adalah suatu transformasi ilmu pengetahuan dan juga merupakan proses pengembangan intelektualitas seseorang. Pemaksimalan hasil belajar dapat dicapai apabila setiap individu dapat memperluas jangkauan pola berpikirnya. Tabel 1 menggambarkan perbandingan pedagogi dan andragogi sesuai dengan asumsi pembelajarannya. 

1. Konsep tentang diri peserta didik.
Peserta didik digambarkan sebagai seorang yang bersifat tergantung kepada orang lain. Masyarakat meng-harapkan para guru bertanggung jawab sepenuhnya menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, bagaimana cara mempelajarinya dan apa hasil yang diharapkan setelah selesai.
Adalah suatu hal yang wajar apabila dalam proses pendewasaan, seseorang akan berubah dari bersifat tergantung kepada orang lain menuju ke arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri,namun setiap individu memiliki irama yang berbeda-beda dan juga dalam dimensi kehidupan yang berbeda-beda pula.
Dan para guru bertanggung jawab untuk menggalakkan dan memelihara kelangsungan perubahan tersebut. Pada umumnya orang dewasa secara psikologis lebih memerlukan pengarahan diri, walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung. 

3. Kesiapan belajar
Seseorang harus siap mempelajari apapun yang dikatakan masyarakat dan hal ini menimbulkan tekanan yang cukup besar bagi mereka karena adanya persaan takut gagal, anak-anak yang sebaya dianggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula, oleh karena itu kegiatan belajar harus diorga-nisasikan dalam suatu kurikulum yang baku, dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua orang.
Seseorang akan siap mempelajari sesuatu apabila ia merasakan perlunya melakukan hal tersebut, karena dengan mempelajari sesuatu itu ia dapat memecahkan masalahnya atau dapat menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan baik. Fungsi pendidik di sini adalah menciptakan kondisi, menyiapkan alat serta prosedur untuk membantu mereka menemukan apa yang mereka perlu ketahui. Dengan demikian program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan-urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik.

4. Orientasi belajar
Peserta didik menyadari bahwa pendidikan adalah suatu proses penyampaian ilmu pengetahuan, dan mereka memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut baru akan bermanfaat di kemudian hari. Oleh karena itu kurikulum disusun sesuai dengan unit- unit mata pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu tersebut, misalnya dari kuno ke modern atau dari yang mudah ke yang sulit. Dengan demikian, orientasi belajar ke arah mata pelajaran. Artinya jadwal disusun berdasarkan keterselesaiannya mata-mata pelajaran yang telah ditetapkan. 
Peserta didik menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu proses peningkatan pengembangan kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal dalam hidupnya. Mereka ingin mampu menerapkan ilmu dan ketrampilan hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau lebih efektif untuk hari esok. Berdasarkan hal tersebut di atas, belajar harus disusun ke arah pengelompokkan pengembangan kemampuan. Dengan demikian orientasi belajar terpusat pada kegiatannya.Dengan kata lain, cara menyusun pelajaran berdasar kan kemampuan-kemampuan yang dimiliki atau penampilan yang bagaimana yang diharapkan pada peserta didik.

C. Kriteria Pembelajaran Orang Dewasa.
1. Pengaruh penurunan faktor fisik orang dewasa dalam belajar.
Proses belajar manusia berlangsung hingga ahkir hayat (long life education). Namun, ada korelasi negatif antara peitambahan usia dengan kemampuan belajar orang dewasa. Artinya, setiap individu orang dewasa, makin bertambah usianya, akan semakin sukar baginya belajar (karena semua aspek kemampuan fisiknya semakin menurun).
Misalnya daya ingat, kekuatan fisik, kemampuan menalar, kemampuan berkonsentrasi, dan lainlain semuanya memperlihatkan penurunannya sesuai pertambahan usianya pula.
Menurut Lunandi (1987), kemajuan pesat dan perkembangan berarti tidak diperoleh dengan menantikan pengalaman melintasi hidup saja.
Kemajuan yang seimbang dengan perkembangan zaman harus dicari melalui pendidikan. 
Menurut Verner dan Davidson dalam Lunandi (1987) ada enam faktor yang secara psikologis dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam suatu program pendidikan:
Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglihatan atau titik terdekat yang dapat dilihat secara jelas mulai bergerak makin jauh. Pada usia dua puluh tahun seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya. Sekitar usia empat puluh tahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm.
Dengan bertambahnya usia, titik jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat secara jelas mulai berkurang, yakni makin pendek. Kedua faktor ini perlu diperhatikan dalam pengadaan dan pengunaan bahan dan alat pendidikan.
Makin bertambah usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi belajar. Kalau seseorang pada usia 20 tahun memerlukan 100 Watt cahaya, maka pada usia 40 tahun diperlukan 145 Watt, dan pada usia 70 tahun seterang 300 Watt baru cukup untuk dapat melihat dengan jelas. 
Makin bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum. Hal ini disebabkan oleh menguningnya kornea atau lensa mata, sehingga cahaya yang masuk agak terasing. Akibatnya ialah kurang dapat dibedakannya warna-warna lembut. Untuk jelasnya perlu digunakan warna- warna cerah yang kontras utuk alat-alat peraga.
Pendengaran atau kemampuan menerima suara mengurang dengan bertambahnya usia. Pada umumnya seseorang mengalami kemunduran dalam kemampuannya membedakan nada secara tajam pada tiap dasawarsa dalam hidupnya. Pria cenderung lebih cepat mundur dalam hal ini daripada wanita. Hanya 11 persen dari orang berusia 20 tahun yang mengalami kurang pendengaran. Sampai 51 persen dari orang yang berusia 70 tahun ditemukan mengalami kurang pendengaran.
Pembedaan bunyi atau kemampuan untuk membedakan bunyi makin mengurang dengan bertambahnya usia. Dengan demikian, bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkapnya, dan bunyi sampingan clan suara di latar belakangnya bagai menyatu dengan bicara orang. Makin sukar pula membedakan bunyi konsonan seperti t, g, b. c, dan d. 

2. Situasi orang dewasa belajar.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam situasi belajar orang dewasa, sebagai berikut.
  1. Terciptanya proses belajar adalah suatu proses pengalaman yang ingin diwujudkan oleh setiap individu orang dewasa. Proses pembelajaran orang dewasa berkewajiban memotivasi / mendorong untuk mencari pengetahuan yang lebih tinggi.
  2. Setiap individu orang dewasa dapat belajar secara efektif bila setiap individu mampu menemukan makna pribadi bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu berhubungan dengan keperluan pribadinya.
  3. Kadangkala proses pembelajaran orang dewasa kurang kondusif, hal ini dikarenakan belajar hanya diorientasikan terhadap perubahan tingkah laku, sedang perubahan perilaku saja tidak cukup, kalau perubahan itu tidak mampu menghargai budaya bangsa yang luhur yang harus dipelihara, di samping metode berpikir tradisionil yang sukar diubah.
  4. Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta bersifat individul. Setiap individu orang dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri untuk memperlajari dan menemukan pemecahan masa!ah yang dihadapi dalam pembelajaran tersebut. Dengan adanya pelung untuk mengamati kiat dan strategi individu lain dalam belajar, diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan caranya sendiri dalam belajar, sebagai upaya koreksi yang lebih efektif.
  5. Faktor pengalaman masa lampau sangat berpengaruh pada setiap tindakan yang akan dilakukan, sehingga pengalaman yang baik perlu digali dan ditumbuhkembangkan ke arah yang lebih bermanfaat.
  6. Belajar adalah suatu transformasi ilmu pengetahuan dan juga merupakan proses pengembangan intelektualitas seseorang. Pemaksimalan hasil belajar dapat dicapai apabila setiap individu dapat memperluas jangkauan pola berpikirnya. Di satu sisi, belajar dapat diartikan sebagai suatu proses evolusi. Artinya penerimaan ilmu tidak dapat dipaksakan sekaligus begitu saja, tetapi dapat dilakukan secara bertahap melalui suatu urutan proses tertentu. Dalam kegiatan pendidikan, umumnya pendidik menentukan secara lauh mengenai materi pengetahuan dan keterampilan yang akan disajikan. Mereka mengatur isi (materi) ke dalam unit- unit, kemudian memilih alat yang paling efisien untuk menyampaikan unit-unit dari materi tersebut, misalnya ceramah, membaca, pekerjaan laboratorium, film, mendengar kaset dan lain-lain.

D. Asumsi Pokok Andragogi dan Implikasi Teknologinya.
Knowless mengembangkan Andragogi ke dalam empat asumsi pokok yaitu:
  1. Konsep diri orang dewasa bergerak dari seseorang yang kepribadiannya menggantungkan diri kepada orang lain menjadi manusia yang mengarahkan diri sendiri;
  2. Pengalaman semakin banyak, dan hal itu menjadi sumber belajar bagi dirinya;
  3. Kesiapan untuk belajar secara bertahap berarah ke tugas pengembangan peranan sosialnya;
  4. Pemahaman waktu belajarnya berubah dari penundaan aplikasi ke penyegeraan aplikasi pengetahuan, dan sesuai dengan itu orientasi belajarnya juga beralih dari berpusat pada materi kepada pemecahan masalah.
Masing-masing asumsi itu akan diuraikan lebih lanjut secara singkat dan implikasi teknologinya untuk pembelajaran sebagai berikut.

a. Konsep diri.
Anak-anak lahir di dunia ini dalam kondisi ketergantungan mutlak kepada orang lain. Segala kebutuhannya, kecuali kebutuhan fungsi biologisnya, harus diurus oleh orang lain. Citra pertama yang didapat anak sebagai orang-seorang, ialah bahwa dia itu pribadi yang bergantung pada orang lain dan hidupnya pun dikelola orang dewasa.
Konsep diri bergantung kepada orang lain ini diperkuat pula oleh dunia orang dewasa. Memang masyarakat mendefinisikan anak sebagai orang yang sedang belajar, itulah tugas pokoknya, dan yang menjadi dasar pula untuk pujian dan pemuasan dirinya. Secara garis besar, peranan itu merupakan peranan pasif, mereka hanya diharapkan menerima dan menyimpan informasi yang ditentukan orang dewasa.
Ketika kepribadian anak mulai terbentuk, ia mulai berpendapat bahwa ia mempunyai kemampuan dalam membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Mula-mula dicobanya hal-hal kecil yang tidak melanggar dunia orang dewasa. Setahap demi setahap sesuai dengan pendewasaannya, konsep diri anak itu bergerak ke pegerahan diri sendiri yang semakin besar. Bahkan pada masa remaja kebutuhannya untuk mempertanggungjawabkan sendiri kehidupannya demikian besarnya, sehingga ia berkecenderungan memberontak terhadap pengendalian orang dewasa.
Sesuatu yang dramatis terjadi terhadap konsep diri kalau seseorang telah merasa dirinya dewasa. Ia mulai melihat peranannya yang normal dari masyarakat, tidak lagi sebagai orang yang pekerjaannya hanya belajar.
Ia merasa dirinya secara bertahap, menjadi produsen atau orang yang berkarya, sebagai suami atau istri, sebagai orang tua, dan sebagai warga negara. Orang yang baru dewasa ini merasakan mempunyai status baru, baik dari sudut pandangnya sendiri maupun dari orang lain. Konsep dirinya telah menjadi pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Dia merasakan bahwa ia sudah dapat membuat keputusan sendiri, dengan segala akibatnya, untuk mengelola kehidupannya. Sebenarnya, titik pangkal seseorang telah menjadi dewasa secara psikologis, bila ia telah melihat dirinya dapat mengarahkan diri sendiri. Pada permulaan itu pula ia membutuhkan anggapan dari orang lain bahwa ia mengarahkan diri sendiri. 
Berdasarkan alasan-alasan itulah orang dewasa ingin dihargai, membuat keputusan sendiri, ingin dilihat sebagai manusia yang unik, mereka cenderung untuk menghindari, dan kecewa akan situasi yang memperlakukannya sebagai anak-anak. Misalnya dengan ditunjuki apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukannya, dibiarkan dan tidak dianggap ada, dihambat, dihukum, dan diadili. Orang dewasa cenderung untuk menentang cara belajar yang kondisinya tidak sesuai dengan konsep dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri.
Sering pula muncul hal lain pada konsep diri orang dewasa yang mempengaruhi peranannya sebagai pelajar. Ia mungkin membawa pengalaman masa lalunya sebagai pelajar. Ia mungkin membawa pengalaman masa lalunya sebagai pelajar misalnya bahwa dahulu itu dia terbelakang dalam pelajaran. Atau juga kesan bahwa di dalam kelas mereka tidak dihargai. Hal-hal itu menjadi hambatan bagi orang dewasa untuk melibatkan diri dalam kegiatan belajar. Jika orang dewasa seperti itu akan dibujuk supaya mau belajar lagi, ganjaran belajarnya harus cukup besar sehingga dapat menghilangkan kesan-kesan buruk tadi. Tetapi orang dewasa yang telah berhasil mengatasi hambatan tadi, jika terjun ke dalam kegiatan belajar, sering mengharapkan untuk diperlakukan sebagai anak-anak lagi. Bahkan harapan diperlakukan sebagai anak-anak itu demikian besarnya, sehingga mereka mendesak gurunya supaya memperlakukan sebagai anak-anak. Jika guru menempatkan pelajar itu sebagai orang yang berdiri sendiri, kemungkianan ia akan mendapat hambatan dan kekecewaan.
Jika pelajar untuk pertama kali dihadapkan pada lingkungan belajar yang menghargai mereka, diberi tanggung jawab untuk belajar, reaksi pertama biasanya berupa kejutan dan kekacauan. Mereka tidak siap untuk mengarahkan diri sendiri dalam belajar, mereka memerlukan proses pengorientasian belajar sebagai orang dewasa, mereka perlu mempelajari cara belajar yang baru. Sekali seorang orang dewasa menemukan bahwa ia dapat menemukan bahwa ia dapat bertanggungjawab untuk belajar, seperti halnya dengan aspek lain dalam kehidupannya, dia akan merasa bebas dan gembira. Dia kemudian akan belajar dengan ketertiban diri yang mendalam, yang kadang- kadang mengherankan dia sendiri maupun pengajarnya. Para pengajar yang telah berhasil membantu pelajar menembus hambatan itu, akan merasakan hal itu sebagai suatu ganjaran yang berarti dalam hidupnya.
Implikasi Teknologis.
Beberapa implikasi teknologis dalam andragogi bersasal dari perbedaan tentang konsep diri seorang anak dengan seorang dewasa.
1) Suasana Belajar.
Keadaan lingkungan tempat orang dewasa belajar, memang mempunyai implikasi yang kuat. Lingkungan fisik hendaknya menyebabkan orang dewasa itu merasa senang. Perabot dan perlengkapan lain untuk orang dewasa hendaknya enak dipakai. Ruang pertemuan hendaknya jangan resmi dan dekorasinya sesuai dengan cita rasa orang dewasa. Penerangan dan suasana hendaknya disesuaikan pula dengan orang dewasa yang kemampuan pandang dengarnya telah menurun.
Lebih penting lagi suasana psikologis. Orang dewasa itu hendaknya merasa diterima, dihargai, dan didukung pula. Dalam suasana itu harus terbentuk semangat saling mendukung antara pelajar dan pengajar yang sama-sama belajar. Dalam lingkungan belajar itu harus ada kebebasan berpendapat tanpa rasa takut dihukum ataupun dipermalukan. Seseorang itu cenderung merasa dewasa dalam suasana tidak resmi dan bersahabat, namanya dikenal dan merasa diperlakukan secara khusus. Tidak seperti suasana di sekolah tradisional, suasananya resmi, guru tak mengenal siswa, dan guru dengan murid itu statusnya berbeda.
Tingkah laku pengajar mungkin paling mempengaruhi suasana belajar dibandingkan dengan faktor-faktor lain. Tampaklah dari pengajar, apakah sikapnya memperhatikan dan menghargai pelajar, ataukah dia menganggap pelajar sebagai penerima lainnya saja. Pengajar yang baik itu mencoba sekuat tenaga mengenal pelajarnya secara individual, berusaha pula mengenal namanya. Tingkah laku pengajar yang paling memperlihatkan perhatian kepada pelajar ialah bila ia mendengarkan dan memperhatikan apa yang dikatakan pelajar.
2) Diagnosis Kebutuhan.
 Konsep diri orang dewasa bahwa dia mengarahkan diri sendiri, bertentangan dengan pelaksanaan tugas guru yang tradisional, yaitu bahwa gurulah yang mencantumkan apa yang harus dipelajari siswa. Bahkan hal itu bertentangan pula dengan filasafat sosial yang beranggapan bahwa masyarakat mempunyai hak untuk mengajukan gagasan mengenai apa yang perlu dipelajari. Tentu orang dewasapun akan mempelajari sesuatu yang diperintahkan orang lain, jika yang memerintah itu mempunyai kekuasaan untuk menghukumnya jika perintah itu tidak dilaksanakan. Sebenarnya seseorang itu akan termotivasi penuh untuk mempelajari sesuatu jika dia membutuhkan pelajaran itu.
Dalam andragogi, penekanan diberikan pada proses mendiagnosis diri dalam kebutuhan belajar. Proses itu terdiri atas tiga tahap sebagai berikut.
a) Menyusun suatu model kemampuan atau ciri-ciri yang diperlukan untuk mencapai model penampilan tertentu, didalam fase penyusunan model inilah nilai dan harapan pengajar, harapan lembaga, dan harapan masyarakat dipadukan dengan harapan pelajar sehingga menjadi pola yang majemuk.
b) Memberikan pengalaman pendiagnosisan sehingga pelajar dapat menilai tahap kemampuan sekarang dibandingkan dengan model yang telah ditentukan.
c) Membantu pelajar mengukur kesenjangan antara kemampuannya sekarang dengan kemampuan yang diharapkan model. Dengan demikian ia mengalami ketidakpuasan sebagai akibat dari kesenjangan antara dia sekarang dengan dimana seharusnya dia berada. Melalui pengalaman itulah dia dapat menentukan arah perkembangan yang diharapkannya. Pengalaman ketidakpuasan karena kesenjangan itu digabung dengan pengarahan diri untuk perbaikan, sebenarnya merupakan motivasi untuk belajar.
3) Proses Perencanaan.
Tiap individu cenderung untuk merasa terlibat pada suatu keputusan (atau kegiatan) jika ia berpartisipasi dalam penentuannya (atau perencanaannya). Para pengajar membuat seluruh perencanaan untuk pelajarannya kemudian masuk kelas mengajukan kegiatan yang telah disusunnya itu, akan menglami ketidakacuhan, kejengkelan, dan penolakan. Hal itu terjadi karena pendesakan kemauan pengajar itu tidak sesuai dengan konsep diri orang dewasa untuk mengarahkan diri sendiri.
Sesuai dengan hal itu, unsur dasar dalam teknologi andragogi ialah melibatkan pebelajar kedalam proses perencanaan belajar, dan pengajar berperan sebagai pembimbing cara kerja dan sumber bahan pelajaran. Jika pelajar hanya sedikit, mereka semua dapat dilibatkan dalam proses prencanaan secara langsung. Jika pelajar itu jauh diatas 30 orang, dapat digunakan berbagai cara yang sebenarnya juga melibatkan semua pelajar, akan tetapi tidak secara langsung. Dalam hal ini dapat dibentuk badan perwakilan panitia, atau satgas yang mendapat kuasa penuh dari pelajar lainnya untuk merencanakan kegiatan.
Fungsi perencanaan terdiri atas penerjemahan hasil pendiagnosisan kebutuhan kedalam tujuan khusus (atau arah pertumbuhan), mendisain dan melaksanakan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tadi, dan mengevaluasi sejauh mana tujuan itu telah tercapai. Dalam andragogi, menjalankan fungsi diatas itu adalah tanggungjawab bersama antara pelajar dan pengajar.
4) Melaksanakan Pengalaman Belajar.
Dalam pelaksanaan pedagogi tradisional pengajar berfungsi “mengajar”.
Pengajar bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi dalam proses belajar mengajar.
Peranan pelajar cenderung merupakan penerima instruksi pengajar dengan pasif.
Sebaliknya dalam pelaksanaan andragogi, proses belajar-mengajar itu merupakan tanggungjawab bersama dari pengajar dan pelajar. Dalam hal ini peranan pengajar diubah menjadi penyelenggara teknis, nara sumber, dan rekan penyelidik. Pengajar itu lebih merupakan katalisator daripada instruktur, lebih merupakan pembimbing daripada pencipta. Dalam andragogi diasumsikan bahwa pengajar itu tidak dapat “mengajar” dalam arti membuat seseorang belajar, tetapi pengajar itu hanyalah dapat membantu orang lain belajar. Suasana belajar secara andragogi, apakah itu suatu kursus, suatu lembaga, suatu program latihan, atau suatu konferensi, tampak hidup dengan adanya pertemuan kelompok kecil, seperti panitia perencana, tim belajar-mengajar, kelompok konsultasi, dan satuan tugas. Mereka semua berbagi tanggungjawab untuk saling menolong dalam belajar.
5) Evaluasi Belajar.
Mungkin, puncak perbedaan antara pendidikan tradisional dengan konsep diri orang dewasa mengenai pengarahan diri sendiri ialah tindakan seorang pengajar membuat tingkatan pada pelajarnya. Tidak ada hal lain yang menyebabkan seorang dewasa merasa dianggap anak-anak, selain dari dinilai oleh sesama orang dewasa. Hal itu merupakan ciri utama dari tidak dihargai dan ketergantungan.
Dengan alasan itulah teori andragogi memberikan petunjuk mengenai proses mengevaluasi diri. Dalam hal ini pengajar sekuat tenaga membantu orang dewasa untuk mendapatkan petunjuk bagi mereka sendiri, tentang kemajuan yang mereka peroleh dalam mencapai tujuan mereka sendiri. Dalam proses ini, kekuatan dan kelemahan (keunggulan dan kekurangan) program pendidikan itu sendiri harus dinilai. Artinya, harus ditemukan apakah program itu mendukung atau menghambat para pelajar dalam belajar. Jadi evaluasi itu suatu perjanjian bersama, seperti halnya pengalaman belajar yang telah disusun bersama.
Apa yang terjadi dalam praktek, sebenarnya sama saja dengan prosedur yang dipakai untuk pendiagnosisan kebutuhan belajar, yang dalam hal ini dipakai untuk mengukur pencapaian kemampuan. Misalnya dengan membandingkan penampilannya dalam memecahkan suatu masalah yang sama, sebelum dan sesudah menikmati suatu pengalaman belajar. Dengan cara itu pelajar dapat mengukur dengan tepat perubahan yang didapatkannya dari pengalaman belajar itu.
Karena persamaan kedua proses itu, sebaiknya makin lama makin sedikit memikirkan pendiagnosisan ulang kebutuhan belajar. Tampaknya, jika pelajar dewasa itu mengamati bahwa yang mereka lakukan pada akhir pelajaran itu pendiagnosisan ulang alih-alih pengevaluasian, mereka lebih bersemangat mengikuti kegiatan dan mereka merasakan hal itu lebih konstruktif. Memang banyak dari mereka yang berpendapat bahwa hal itu memasukan mereka ke dalam daur baru dalam belajar, dan memperkuat pengertian bahwa itu suatu proses yang berkelanjutan.
Peralihan dari pengevaluasian ke pengevaluasian diri atau pendiagnosisan ulang membebani pengajar orang dewasa. Dia harus memberi contoh bahwa dia sendiri terbuka untuk menerima balikan mengenai penampilannya sebagai pengajar. Dia harus pula terampil dalam mengadakan suasana yang mendukung, yang dapat melihat secara objektif informasi tentang penampilan seseorang, meskipun hal itu sukar dipahami. Dia juga harus kreatif dalam menemukan cara sehingga para pelajar mendapatkan data yang menyeluruh mengenai penampilannya.

b. Pengalaman.
Tiap orang dewasa masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang pengalaman yang berbeda, yang dibawanya dari masa mudanya. Panjangnya umur menimbulkan tumpukan banyaknya pengalaman disamping jenis pengalaman.
Tampaknya, ada lagi hal kecil lainnya yang membedakan orang dewasa dengan anak- anak dalam hal pengalaman. Untuk seorang anak, pengalaman itu sesuatu yang mempengaruhi dirinya, jadi hal itu merupakan faktor luar yang mempengaruhinya, bukan bagian integral dari dirinya. Jika kita bertanya kepada seorang anak tentang siapakah dia, ia cenderung untuk memperkenalkan diri melalui siapa orang tuanya, siapa saudara-saudaranya, di jalan mana dia tinggal, dan dia bersekolah di mana. Identitas dirinya itu berasal dari luar.
Lain halnya dengan orang dewasa, pengalaman itu adalah dirinya sendiri. Ia akan menunjukkan dirinya sendiri, memperlihatkan identitas dirinya, dalam arti kumpulan pengalaman-pengalamannya yang unik. Jika kita tanya seorang dewasa mengenai siapa dia, ia cenderung untuk menyatakannya dalam bentuk; apa jabatannya, di mana saja dia pernah bekerja, ke mana saja dia pernah pergi. Latihan dan pengalaman apa saja yang membantu kemampuannya, dan apa saja karya-karyanya. Jadi orang dewasa itu adalah perwujudan dari apa yang pernah dilakukannya.
Orang dewasa menyatakan dirinya dengan menunjukan pengalamannya, karena itu nilai pengalaman itu merupakan modal yang berharga baginya. Jika dia berada dalam lingkungan yang tidak menggunakan pengalamannya yang ditolak, dia sendiripun merasa ditolak.
Perbedaan dalam pengalaman antara anak-anak dengan orang dewasa, mempunyai tiga akibat dalam belajar.
Orang dewasa harus lebih banyak menyumbang supaya orang lain belajar, untuk kebanyakan bahan pelajaran seorang orang dewasa merupakan sumber belajar yang kaya. Orang dewasa kaya akan dasar pengalaman untuk dijadikan hubungan dengan pengalaman baru (dan pelajaran baru akan bermakna jika dapat kita hubungkan dengan dengan pengalaman yang telah lalu).
Orang dewasa telah mempunyai kebiasaan yang telah berakar dan pola pikiran tertentu, sehingga karenanya menjadi terlalu memihak.
Implikasi Teknologis.
Implikasi untuk teknologi andragogi berpangkal pada perbedaan-perbedaan pengalaman sebagai berikut.
1) Tekanan pada teknik-teknik Pengalaman.
Karena orang dewasa itu sendiri merupakan sumber yang kaya untuk pelajaran dibandingkan dengan anak-anak, tekanan yang besar dapat diletakkan pada teknik yang dapat menyadap pengalaman orang dewasa itu sendiri, misalnya diskusi, metode khusus, proses kejadian kritis, latihan simulasi, bermain peran (role playing), latihan keterampilan, proyek lapangan, proyek kegiatan, metode laboratorium, supervisi konsultatif, demonstrasi, seminar, konferensi kerja, penyuluhan, terapi kelompok, dan perkembangan masyarakat. Ada pergeseran menjauh yang jelas pada penekanan dalam andragogi dari teknik transmisi yang tampak lebih banyak dalam pendidikan anak (seperti kuliah, tugas membaca, dan presentasi audio - visual yang terbatas) ke arah teknik pengalaman yang lebih partisipatif. Memang partisipasi dan keterlibatan diri merupakan hal yang ditekankan oleh para pendidik orang dewasa, dengan asumsi bahwa lebih aktif peran pelajar dalam suatu proses, lebih banyak pula ia belajar.
2) Tekanan pada Aplikasi Praktis.
Pendidikan orang dewasa selalu berusaha supaya konsep-konsep baru atau penggeneralisasian diilustrasikan dengan pengalaman nyata dari para pelajar. Banyak pengajian akhir-akhir ini mengenai trasfer of learning (pengalihan pelajaran) dan pemeliharaan perubahan tingkah laku mengharapkan hal-hal yang lebih jauh, dan benar-benar memasukan ke dalam pengalaman belajar, kemampuan merencanakan (bukan berlatih) bagaimana mereka akan menerapkan hasil belajarnya untuk kehidupan sehari-hari.
3) Mencairkan Suasana Belajar untuk Belajar dari Pengalaman.
Pelaksanaan andragogi hendaknya secara bertahap dijalankan sejak permulaan suatu kursus, lokakarya, konferensi, atau kegiatan pendidikan lainnya sebagai suatu pengalaman”pencairan”. Dalam hal ini orang-orang dewasa itu dibantu untuk melihat dirinya sendiri secara lebih objektif dan membebaskan pikirannya dari pra konsepsi. Banyak latihan diagnostik dapat membantu hal itu, tetapi teknik yang paling efektif ialah mungkin ”latihan kepekaan mi crolab“, bagaimana belajar dengan menganalisis pengalaman sendiri. Dengan cara itu peserta mengalami balikan yang pendek dan intensif mengenai tingkah lakunya. Kebutuhan pendahuluan yang universal dari orang dewasa ialah belajar bertanggung jawab untuk pelajarannya sendiri melalui inkuari yang diarahkan sendiri, bagaimana belajar bersama, bukan berkompetisi dengan rekan.

c. Kesiapan Belajar.
Diterima oleh kebudayaan kita sekarang, bahwa anak-anak mempelajari dengan baik hal-hal yang perlu mereka ketahui untuk peningkatan dari suatu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Hal itu disebut ”tugas perkembangan” oleh ahli-ahli psikologi perkembangan.
Suatu tugas perkembangan ialah tugas yang muncul pada sekitar periode tertentu dalam hidup orang-perorang, yang keberhasilan pencapaiannya menyebabkan dia bahagia dan mendapat keberhasilan pula pada tugas berikutnya, sedangkan kegagalan menyebabkan orang itu kecewa, dicela masyarakat, dan mendapat kesukaran pada tugas berikutnya.
Tiap tugas perkembangan menghasilkan kesiapan belajar yang pada puncaknya memberikan “sa at dapat diajari” (masa peka). Misalnya, orang tua sekarang umumnya menerima kenyataan bahwa mereka tak dapat mengajar anaknya berjalan jika anak itu belum terampil merangkak. Pada saat anak terampil merangkak, otot kakinya telah kuat dan ia akan kecewa karena tak bisa berdiri dan berjalan seperti orang lain. Pada titik itulah ia dapat belajar berjalan karena hal itu telah menjadi tugas perkembangannya.
Hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa peristiwa yang sama terjadi pula pada usia dewasa. Orang dewasa pun mempunyai tahap pertumbuhan yang menghasilkan tugas perkembangan, kesiapan belajar, dan saat dapat diajari. Jika tugas perkembangan pemuda terutama cenderung sebagai hasil pendewasaan fisiolagis dan mental, tugas perkembangan orang dewasa adalah terutama hasil evolusi peranan sosialnya. Robert J. Havighurst, salah seorang pelopor penelitian hal ini, membagi masa dewasa ke dalam tiga tahap yaitu: “Kedewasaan awal” (early adulthood), usia pertengahan (midle age), dan “kedewasaan akhir” (late maturity). Diperkenalkan pula sepuluh peranan sosial kedewasaan, yaitu; pegawai, berumahtangga, orang tua, anak orang tua renta, warga negara, teman, anggota organisasi, anggota kerohanian, dan pemakai waktu senggang. Keperluan untuk melaksanakan masing-masing peranan sosial itu berubah jika kita bergerak sepanjang tiga tahap usia dewasa, dengan demikian menyusun tugas perkembangan yang berubah dan karena itu pulalah mengubah kesiapan belajar (Malcom Knowles: 51)
Misalnya dalam peranan seorang pegawai, tugas perkembangan pertamanya adalah mendapatkan pekerjaan. Pada tahap itu ia siap untuk belajar apapun untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi jelas ia tidak siap untuk belajar supervisi. Setelah ia mendapatkan pekerjaan, ia menghadapi tugas untuk menguasai pekerjaan itu supaya tidak dipecat. Pada tahap ini ia siap untuk belajar keterampilan khusus yang diperlukannya, standar yang diharapkan dari dia, dan bagaimana bergaul dengan teman sejawat. Setelah dia mapan dalam pekerjaan itu, tugasnya adalah berusaha untuk naik pangkat.
Sekarang ia siap belajar untuk menjadi supervisor atau eksekutif. Akhirnya setelah ia mencapai pagunya, ia menghadapi tugas untuk melepaskan diri sebagai pegawai. Disinilah dia siap untuk belajar menjadi pensiunan atau siap untuk belajar mencari pengganti pekerjaannya.
Implikasi Teknologis
Sekurang-kurangnya dua set implikasi untuk teknologi andragogi muncul dari perbedaan kesiapan belajar itu.

1) Ketepatan Waktu untuk Belajar.
Jika masa dapat diajari orang dewasa tertentu untuk mendapat pelajaran tertentu mau dimanfaatkan, jelaslah bahwa urutan kurikulum harus sesuai dengan tugas perkembangannya. Hal itu merupakan prinsip pengorganisasian yang lebih tepat untuk penyusunan program pendidikan orang dewasa, daripada logika bidang studi, atau kebutuhan lembaga yang menyeponsorinya. Misalnya, program orientasi untuk pegawai baru bukan dimulai dengan sejarah atau falsafah lembaga itu, tetapi lebih baik mengenai kepedulian pegawai baru itu dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Di manakah saya akan bekerja? Dengan siapakah saya akan bekerja? Apakah yang diharapkan dari saya?
Bagaimanakah cara teman sejawat berpakaian di lembaga ini? 
Bagaimanakah jadwal kerjanya?Kepada siapa saya harus meminta pertolongan?

2) Pengelompokan Pelajar.
Konsep tugas pengembangan, memberikan beberapa petunjuk untuk pengelompokan pelajar. Untuk beberapa macam pelajaran, kelompok yang homogen sesuai dengan tugas perkembangan lebih efektif. Misalnya, dalam suatu program pemeliharaan anak, para orang tua yang masih muda akan mempunyai perhatian yang jauh berbeda dengan orang tua yang anaknya sudah remaja. Untuk pelajaran lain, kelompok yang heterogenlah yang diperlukan. Misalnya, dalam program latihan hubungan antara manusia, yang bertujuan menolong pelajar untuk dapat bergaul lebih baik dengan berbagai macam manusia. Untuk hal itu, kelompok hendaknya heterogen dalam arti berbeda-beda pekerjaanya, umurnya, statusnya, jenis kelaminnya, dan ciri-ciri lain yang membuat manusia itu berbeda. Dalam perencanaan kegiatan belajar orang dewasa, saya buat kegiatan cadangan untuk berbagai sub-kelompok, sehingga para pelajar mempunyai pilihan, dan saya temukan bahwa mereka cepat menemukan rekan yang sama tugas perkembangannya.

d. Orientasi Belajar.
Harapan orang dewasa belajar berbeda dengan harapan anak-anak, dan karena itulah berbeda pula cara mereka melihat pelajaran. Anak-anak cenderung untuk mempunyai perspektif menunda penerapan untuk kebanyakan pelajaran. Misalnya, kebanyakan dari apa yang saya pelajari di SD, saya pelajari supaya saya dapat masuk ke SMP. Kebanyakan dari apa yang saya pelajari untuk persiapan ke Perguruan Tinggi, saya harapkan dapat menyiapkan saya untuk kehidupan yang produktif dan bahagia. Bagi seorang anak, pendidikan itu tak lain dari penumpukkan wadah bahan pelajaran (pengetahuan dan keterampilan) yang mungkin berguna kelak. Karena itulah anak- anak cenderung untuk mengikuti sekolah dengan acuan pemikiran yang berpusat pada bahan pelajaran (subject centered).
Lain halnya dengan orang dewasa, mereka cenderung mempunyai perspektif untuk penyegeraan penerapan dari kebanyakan pelajarannya. Pendidikan itu suatu proses perbaikan kemampuan untuk menghadapi masalah hidup mereka sekarang. Karena itulah mereka cenderung untuk mengikuti kegiatan pendidikan dengan acuan pikiran berpusat pada masalah (problem centered).
Implikasi Teknologis.
Beberapa implikasi untuk teknologi andragogi berasal dari perbedaan orientasi terhadap pelajaran ini.
1) Orientasi Pendidikan Orang Dewasa.
Para pendidik orang dewasa, sepantasnya pertama-tama mempedulikan perkembangan logis bahan pelajaran dan kaitan antara tingkat-tingkat keruwetannya. Para pendidik orang dewasa itu hendaknya menyesuaikan diri dengan kepedulian perseorangan dan lembaga yang berkaitan dengan kepedulian itu. Andragogi memerlukan pembuat program dan guru yang berpusat pada orangnya (person centered), yang tidak mengajarkan bahan pelajaran, tetapi menolong orang untuk belajar.
2) Organisasi Kurikulum.
 Orientasi belajar orang dewasa cenderung berpusat pada masalah, karena itu prinsip pengorganisasian urutan belajarnya yang cocok adalah lingkup masalah (problem areas) bukan lingkup bahan pelajaran (subjects area).
3) Rancangan Pengalaman Belajar.
Pengorientasian para pelajar pada masalah berarti bahwa yang paling sesuai dengan pengalaman belajar adalah masalah dan kepeduliannya yang dipikirkan para pelajar orang dewasa ketika mulai belajar.
Jika pertemuan pembukaan pelatihan untuk orang muda diberi judul “Mengenai apa sajakah kursus ini?”, untuk pelatihan orang dewasa judul itu lebih sesuai jika disebut “Apa yang dapat anda harapkan dari kursus ini ?
Segera mendata masalah sejak sajian pertama, atau dapat pula dibuat instrumen kebutuhan peserta, sehingga para peserta dapat menentukan masalah tertentu yang diharapkan untuk dibahas. Hal ini tidak berarti bahwa pengalaman belajar yang baik untuk orang dewasa itu berakhir disini. Hal itu, barulah suatu permulaan. Mungkin ada masalah-masalah lain yang menurut peserta atau lembaga perlu dibahas. Masalah-masalah dari peserta dicampur dengan masalah dari lembaga untuk dirundingkan dalam menentukan pokok bahasan.

Sumber : Buku pedoman Instruktur Nasional GP

Atrikel Terkait

Previous
Next Post »