1.1.1 Menjelaskan tahapan perkembangan perilaku dan pribadi siswa




1.1.1 Menjelaskan tahapan perkembangan perilaku dan pribadi siswa

Perkembangan Kognitif
A. Pengertian Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition, yang berarti knowing atau mengetahui, yang dalam arti luas berarti perolehan, penataan, dan penggunaan. Secara sederhana, dapat dipahami bahwa kemampuan kognitif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk berfikir lebih kompleks, serta kemampuan penalaran dan pemecahan masalah.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu ranah psikologis manusia meliputi perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pengolahan informasi, pemecahan masalah dan keyakinan. 
Kognisi adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan.

B. Tahap Perkembangan Kogntif
Jean Pieget mengklasifikasikan perkembangan kognnitif anak menjadi 4 tahap, antara lain,:
Tahap Sensory Motor ( berkisar antara usia sejak lahir sampai 2 tahun)
Gambarannya, bayi bergerak dari pergerkan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis.
Tahap Pre-0perational (berkisar antara 2-7 tahun)
Gambarannya, anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. (kata dan gambar menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis)
Tahap Concrete Operarational (berkisar antara 7-11 tahun)
Gambarannya, anak dapat berpikir secara logis mengenai hal yag konkret dan mengklasifikasikan benda kedalam bentuk yang berbeda.
Tahap Formal Operational (berkisar antara 11-15 tahun)
Gambarannya, remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan idealistis.
Menurut Piaget, perkembangan tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari perkembangan tahap sebelumnya. Penting bagi calon guru dan guru professional untuk menhindari pemahaman bahwa teori perkembangan diatas pasti berlaku sepenuhnya kepada siswa.

C. Hubungan Kognitif dengan Tingkah laku dan Hasil Belajar
Manfaat bagi guru yang memahami perkembangan kognitif siswa, antara lain :
Guru dapat memberikan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Guru dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa, lalu mengambil langkah untuk menanggulanginya.
Guru dapat mempertibangkan waktu yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
Perkembangan kognitif pada seorang individu berpusat pada otak, dalam perspektif psikologi kognitif otak adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan seperti ranah afektif (rasa), dan ranah psikomotor (karsa).

D. Karakteristik Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif pada anak dapat dibedakan menjadi 2 :

Anak-anak ( usia Sekolah Dasar)

Pada anak sekitar usia Sekolah Dasar, aktivitas mental anak terfokus pada objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Ini bararti bahwa anak usia sekolah dasar sudah memiliki kemampuan berpikir melalui urutan sebab-akibat.
Dalam memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaidranya, karena mereka mulai memiliki kemamapuan untuk membedakan apa yamg tampak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya. Menurut Piaget, anak pada masa ini telah mampu menyadari konservasi ( kemampuan anak untuk berhubungan dengan aspek yang berbeda), karena anak telah mengembangkan tiga macam proses, yaitu : Negasi (Negation), Hubungan timbal balik (Resipsokasi), dan Identitas.

Remaja (SMP dan SMA)
Secara umum, karakteristik perkembangan usia remaja ditandai dengan kemampuan berpikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak. Remaja dapat mangintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tatantngan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. Mereka juga sudah mampu berpikir secara sistematk, mampu berpikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi, bukan hanya apa yang terjadi.

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Perkembangan organik dan kematangan sistem syaraf, Hal ini erat kaitannya dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan organ tubuh anak itu sendiri. Seorang anak yang memiliki kelainan fisik belum tentu mengalami perkembangan kognitif yang lambat. Begitu juga sebaliknya.
Latihan dan Pengalaman,
Hal ini berkaitan dengan pengembangan diri anak melalui serangkaian latihan-latihan dan pengalaman yang diperolehnya. Perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh latihan-latihan dan pengalaman.
Interaksi Sosial, Perkembangan kognitif anak juga dipengaruhi oleh hubungan anak terhadap lingkungan sekitarnya, terutama situasi sosialnya, baik itu interaksi antara teman sebaya maupun orang - orang terdekatnya.
Ekuilibrasi,
Ekuilibrasi merupakan proses terjadinya keseimbangan yang mengacu pada keempat tahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget., keseimbangan tahapan yang dilalui si anak tentu menjadi faktor penentu bagi perkembangan kognitif anak itu sendiri.
Perbedaan Individual dalam Perkembangan Kognitif, Individu memiliki potensi yang dapat menyebabkan perbedaan dalam perkembangan berpikir mereka. Berkembang atau tidaknya potensi tersebut tergantung pada lingkungan. Ini berarti bahwa anak akan mempunyai kemampuan berpikir normal, di atas normal atau di bawah normal sangat tergantung pada lingkungan.

Membantu Perkembangan Kognitif dan Implikasinya dalam Pendidikan

Peran penting untuk mengembangkan fungsi kognitif anak terutama dalam belajar adalah seorang guru.
Berikut adalah beberapa praktek yang dapat fungsi kognitif siswa dalam mengingat, memahami, dan meneapkan informasi / pengetahuan :
  1. Membuat pembelajaran relevan dan mengaktifkan pengetahuan sebelumnya.Penggunaan organisator awal (analogi, elaborasi) dengan siswa dapat membantu mengaktifkan pengetahuan mereka taerdahulu.
  2. Mengorganisasikan informasi.Materi yang diorganisasikan dengan baik, akan lebih mudah dipelajari dan diingat daripada materi yang kurang terorganisir. Contohnya, kelompok masalah yang spesifik dikelompokan dibawah masalah yang lebih umum.
  3. Menggunakan tekhnik bertanya.Penyajian pertanyaan sebelum pengenalan bahan pengajaran dapat membantu siswa mempelajari bahan yag terkait dengan pengajaran tersebut.
  4. Menggunakan model konseptual.Salah saatu contoh dari model konseptual adalah diagram yang memperlihatkan unsur-unsur informasi atau pengetahuan.
Beberapa hal diatas dapat di aplikasikan oleh para guru dalam rangka membantu fungsi kognitif siswa. Setelah diaplikasikan maka akan timbul implikasinya dalam pembelajaran, yaitu siswa menjadi lebih mudah dalam memproses informasi / pengetahuan yang akan mereka dapatkan, sehingga hal inijuga berdampak pada hasil belajar mereka.

KESIMPULAN
Kognisi adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan.

Tahap perkembangan kognitif ada 4, antara lain :
  1. Tahap Sensory Motor ( berkisar antara usia sejak lahir sampai 2 tahun)
  2. Tahap Pre-operational (berkisar antara 2-7 tahun)
  3. Tahap Concrete Operarational (berkisar antara 7-11 tahun)
  4. Tahap Formal Operational (berkisar antara 11-15 tahun)

Fungsi kognitif berpusat pada otak, hubungan kognitif dengan hasil belajar sangat berparan penting, karena tanpa adanya fungsi kognitif pada siswa ia tidak akan mampu untuk memahami apa yang disampaikan guru, sehingga hasil belajarnya pun akan kurang maksimal. Bagaimana ia bisa memperoleh hasil yang baik jika materi yang disampaikan guru pun tidak ia pahami.

Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif pada diri seorang anak.
  1. Perkembangan organik dan kematangan sistem syaraf.
  2. Latihan dan Pengalaman
  3. Interaksi Sosial
  4. Ekuilibrasi
Beberapa hal yang dapat membantu perkembangan kognitif:
  1. Membuat pembelajaran relevan dan mengaktifkan pengetahuan sebelumnya.
  2. Mengorganisasikan informasi.
  3. Menggunakan tekhnik bertanya. 
  4. Menggunakan model konseptual.

Atrikel Terkait

Previous
Next Post »